//
you're reading...
Public Relations Indonesia

kasus ledakan LPG 3kg

TRAUMA MASYARAKAT TENTANG LEDAKAN LPG

Kasus ledakan LPG 3kg terus memakan korban.ledakan LPG 3kg satu buah tabung tidak kalah dengan serangan bom yang dibuat  para teroris. Pada umumnya memakan korban jiwa dan luka-luka yang diikuti dengan kebakaran rumah. Korban ledakan LPG 3kg kebanyakan masyarakat miskin, pembantu rumah,orang yang berjualan di warung. Serangan terorisme dan ledakan LPG sama-sama mendatangkan trauma yang mendalam bagi korban dan rasa ketakutan pada masyarakat luas.

Perbedaan mendasar adalah cara menangani kedua teror ini. Kasus terorisme ditangani dengan reaksi cepat, sigap dan tuntas. Banyak rencana-rencana pengeboman yang berhasil digagalkan oleh aparat. Pergerakannya berhasil dipatahkan dan akan ditumpas hingga ke akar-akarnya. Bahkan beberapa korban tewas dalam penyergapan aparat masih dalam status terduga. Untuk kasus terorisme, pemerintah tidak pernah menghitung biaya.

Untuk saat ini penanganan kasus ledakan tabung gas terkesan lambat. Memang ledakan tabung LPG adalah dampak samping dari kebijakan pemerintah, namun yang perlu diusahakan adalah agar kasus serupa tidak terus berulang. Dalam kasus ini, ada juga unsur-unsur kriminal, misalnya pengoplosan LPG dari 3 kg yang dipindahkan ke tabung 12 kg (non subsidi). Akibatnya katub karet menjadi rusak dan memicu ledakan. Kasus lain, memproduksi asesoris dan tabung gas timan yang tidak sesuai standar. Sudah seharusnya hukuman pada mereka ini mengikuti pola pemberantasan terorisme, agar jera dan tidak berulang.

Menurut Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN), total kasus ledakan tabung gas LPG sejak diluncurkannya kebijakan ini tahun 2007, hingga bulan Juli 2010 sebanyak 95 kasus dengan korban jiwa 22 orang dan luka-luka 131 orang. Kerugian materi tidak tercatat, namun diperkirakan cukup besar karena biasanya diikuti dengan musibah kebakaran. Kerugian immateri sangat besar karena meninggalkan trauma yang mendalam bagi korban. Korban luka umumnya mengalami cacat permanen karena menderita luka bakar yang tidak mungkin pulih seperti sedia kala.

Yang lebih menarik untuk disimak adalah tren kejadian yang meningkat drastis. Tahun 2007, hanya terjadi 5 ledakan, tahun 2008 sebanyak 27 ledakan, tahun 2009 meningkat menjadi 30 ledakan dan dalam waktu setengah tahun ini sudah mencapai 33 kasus.

Penyebabnya hampir seragam, yaitu muncul dari kerusakan asesoris, seperti selang, katup dan regulator. Umur teknis alat-alat ini antara 1 hingga 1,5 tahun. Memang sudah waktunya diganti. Penggantinya hingga saat ini, tidak lagi disubsidi dan masyarakat harus membeli dengan harga selang sebesar Rpl5.000 dan regulator Rp20.000. Bagi masyarakat miskin, uang sebesar ini tetap saja menjadi kendala, sehingga menunda-nunda untuk menggantinya. Asesoris timan dengan mutu di bawah standar pun banyak beredar di pasaran dengan harga yang lebih murah.

Sejauh ini, tabung gas LPG itu sendiri belum menjadi masalah. Umur teknisnya sekitar 5 tahun. Berarti masih tersisa waktu antara satu hingga dua tahun lagi. Jika umur teknisnya habis dan terlambat menariknya dari peredaran, maka rentetan ledakan tabung LPG seperti sekarang ini, berpotensi untuk muncul lagi.

Muncul pertanyaan, jika umur teknis tabung gas sudah habis, apakah pemerintah sudah menyiapkan gantinya dengan standar mutu sesuai dengan ketentuan. Pemerintah pun harus tetap mengucurkan subsidi untuk menghancurkan tabung gas lama dan memproduksitabung gas baru. Biaya produksinya semakin mahal dan harga baja pun terus meroket. Tidak mungkin tabung gas baru itu dijual kepada masyarakat yang sudah memiliki tabung lama. Tabung gas baru hanya mungkin dijual kepada masyarakat yang belum punya tabung. Pemilik tabung lama tahunya hanya isi utang. Tabung akan berputar di tengah masyarakat, karena setiap kali beli gas, tabungnya akan berganti dengan tabung lain. Tidak mungkin tabung lama mereka dihancurkan dan disuruh beli yang baru. Inilah konsekuensi dari menjual produk isi ulang.

Perlu dicatat bahwa tabung gas ukuran 3 kg sampai saat ini sudah beredar di masyarakat sebanyak 44,1 juta buah. Persebarannya sudah mencakup sebagian besar wilayah Indonesia. Memproduksi tabung baru sebanyak itu, meskipun dengan bahan baku tabung lama, membutuhkan anggaran yang sangat besar. Memang penggantiannya secara bertahap, sesuai dengan umur tabung yang beredar di masyarakat.

Pemerintah sebenarnya bisa menghitung apakah memproduksi tabung gas dengan biaya rendah, tetapi umur teknisnya 5 tahun, lebih untung dibandingkan dengan memproduksi tabung dengan kualitas lebih bagus (umur teknisnya misalnya 10 tahun). Proses pergantian tabung menjadi lebih lama. Namun, tabung gas berkualitas baik tentu saja harga jualnya di masyarakat menjadi lebih mahal. Perlu dipertimbangkan, harga tabung gas jangan disubsidi terlalu besar. Di tengah harga baja yang terus meningkat, bisa saja tabung gas berharga murah akan dilebur secara ilegal untuk kebutuhan baja di bidang lain.

Membiarkan ledakan-ledakan terus memakan korban, akan menimbulkan biaya sosial yang sangat mahal. Ongkos politiknya pun akan terus naik, berupa skepsitsnya masyarakat terhadap semua kebijakan publik.

Meskipun banyak suara yang menyarankan agar kebijakan ini dihentikan, tetapi itu bukan saran yang bijak. Berapa banyak subsidi yang sudah digelontorkan untuk proyek konversi minyak tanah ke BBG ini. Pemerintah pun sudah menyetop penyaluran minyak tanah untuk kebutuhan rumah tangga di daerah-daerah yang dianggap berhasil dikonversi. Pemerintah juga dapat menghemat subsidi minyak tanah dalam jumlah yang signifikan serta mencegah penyelundupan minyak tanah ke luar negari.

Meskipun penjualan tabung gas menurun drastis (sekitar 75 persen) karena kasus-kasus ledakan ini, tetapi biaya untuk menghentikan kebijakan yang hampir sukses ini lebih besar, daripada membenahinya secara serius. Menurut perhitungan pemerintah, rumah tangga juga dapat menghemat Rp30 ribu rupiah perbulan dengan memakai gas dibandingkan dengan minyak tanah.

Kebijakan ini harus diawasi ketat secara terus menerus oleh pemerintah. Sampai kapanpun, kebijakan ini tidak bisa dilepaskan ke mekanisme pasar. Jika kebijakan ini dinodai oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab, misalnya pengoplosan, produksi asesoris tiruan dan tabung gas di bawah standar, dampaknya teramat fatal bagi masyarakat luas. (HL).

http://bataviase.co.id/node/326748

SOLUSI KASUS LPG 3kg

Memang dari hari ke hari LPG 3kg terus memakan korban, kesalahan teknis yang sering disepelekan oleh masyarakat justru menjadi masalah utama terhadap kasus meledaknya tabung gas LPG 3kg. hal ini dikarenakan alat-alat pendukung (assesoris) dari kompor LPG seperti selang,katup dan regulator yang biasanya dipakai oleh masyarakat tidak memenuhi Standart Nasional Indonesia (SNI).

Terkait dengan kejadian tersebut kami konsultan PR dari PT Pertamina mengadakan Operasi tentang barang-barang yang tidak memenuhi standart Nasional Indonesia(SNI). Operasi dilakukan oleh pihak pertamina dengan mengirimkan tim khusus untuk terjun langsung kemasyarakat.Hal ini dilakukan untuk mengurangi kecelakaan meledaknya tabung gas. Operasi ini ditujukan terutama untuk kalangan menengah ke bawah dengan membagikan (assesoris) dari kompor LPG seperti selang,katup dan regulator yang berstandart Nasional Indonesia(SNI) dengan setengah harga.

Hal ini dimaksudkan untuk mengantisipasi kecelakaan ledakan LPG mengingat kebanyakan kecelakaan yang terjadi dialami oleh masyarakat dari segi ekonomi yang kurang mampu. Ketidakmampuan ini membuat para warga terpaksa membeli assesoris yang tidak memenuhi standart Nasional Indonesia hingga akhirnya terjadi kecelakaan.

Banyaknya kasus meledaknya tabung LPG 3kg pasti membuat masyarakat Indonesia didera trauma yang berkepanjangan.Akibat dari kejadian tersebut banyak pula masyarakat yang beralih dari LPG ke minyak tanah.Walaupun minyak tanah lebih mahal dari pada LPG namun tidak menyurutkan keinginan masyarakat untuk membeli minyak tanah dengan alasan demi keselamatan.

Jika masyarakat dibiarkan untuk terus memakai minyak tanah,secara tidak langsung anggaran belanja Negara (APBN) terus mengalami penurunan, mengingat minyak tanah yang beredar dimasyarakat masih menggunakan subsidi.Jika hal ini terus menjadi kebiasaan maka masyarakat akan mengalami ketergantungan dengan minyak tanah.Oleh karena itu kami sebagai konsultan PR dari PT Pertamina sudah mengantispasi masalah tersebut.

Untuk mengubah pandangan masyarakat tentang LPG 3kg yang sering memakan korban maka pihak dari Pertamina mensosialisasikan tentang cara penggunaan dan pemasangan LPG 3kg dengan baik dan benar. Selain itu pihak dari pertamina juga memberikan tips untuk memilih tabung LPG 3kg yang masih layak untuk digunakan.Cara ini bias dilakukan dengan membuat iklan layanan masyarakat yang dapat dipublikasikan melalui TV ,Radio dan baliho.Selain itu pihak dari Pertamina mengirimkan tim kusus dengan mobil kelilingnya yang bertujuan untuk memberikan servis gratis kepada masyarakat tentang kerusakan LPG .

Diharapkan dengan cara ini dapat merubah citra masyarakat terhadap tabung gas LPG yang sering meledak, sedangkan untuk membuat masyarakat mengurangi penggunaan minyak tanah , pemerintah harus mencabut subsidi pada minyak tanah sehingga masyarakat akan berpikiran bahwa tanpa subsidi harga minyak tanah akan melambung dan masyarakat mau tidak mau akan beralih ke tabung gas LPG,

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: