//
you're reading...
Jurnalis Indonesia

sejarah dan perkembangan pers di indonesia

 Penulis

PERS INDONESIA

Latar Belakang

Pers bisa dikatakan senjata informasi dalam bentuk tulisan, audio, visual dan audio visual. Dalam perkembangan pers sendiri alhasil pengaruh tecnologi yang meledak. dan hal itu memudahkan manusia dalam menangkap informasi diberbagai media yang sangat banyak sekarang ini. Dengan adanya teknologi yang sangat banyak dan canggih, hal ini mempengaruhi dalam penyampaian informasi yang berupa tulisan dan audio visual. Infomasi yang didapat terbanyak yang menguasai ruangan adalah audio visual, tetapi dalam penguasaan waktu lebih efektif adalah media cetak. Dan hampir semua media sekarang ini bersaing secara ketat dalam menyampaikan informasi setiap waktu yaitu media cetak, media elektronik, dan yang tenar sekarang ini adalah Internet. Dengan hal ini lah memudahkan pers dalam mempublikasikan sebuah informasi yang banyak.

Kalau devinisi pers sendiri merupakan sebutan suatu nama. Kalau nama pers disebutkan, gaungnya seperti menggetarkan jiwa. Jika seseorang sedang berhubungan dengan pers, dikonotasikan ia berhadapan dengan satu urusan yang besar. Pers sebagai lembaga, bisa berperan seperti sahabat, mitra kerja atau menjadi lawan. Pendeknya, pers sebagai lembaga dapat difungsikan menjadi apa saja bergantung kehendak yang mengelolanya. Pengertian pers jika dilihat dari segi bisnis adalah suatu kelompok kerja yang terdiri dari berbagai komponen (wartawan, redaktur, tata letak, percetakan, sirkulasi, iklan, tata usaha, dan sebagainya), yang menghasilkan produk berupa media cetak. (Djuroto Totok:2000)

Menurut leksikon komunikasi, pers berarti 1. Satu usaha percetakan atau penerbitan 2. Usaha pengumpulan dan penyiaran berita 3. Penyiaran berita melalui surat kabar, majalah, radio, dan televisi 4. Orang-orang yang bergerak dalam penyiaran berita 5. Medium penyiaran berita, yakni surat kabar, majalah, radio dan televisi. Sedangkan istilah “press” berasal dari bahasi inggris karena proses produksinya memakai tekanan(pressing) sebagai orang menyebutkan istilah pers sebagai kependekan dari kata persuratkabaran.

Di indinesia, menurut Undang-Undang nomor 11 tahun 1966, tentang ketentuan-ketentuan pokok pers, sebagai telah ditambah dengan undang-undang nomor 4 tahun 1967 dan diubah lagi dengan undang-undang nomor 21 tahun 1982, pers adalah lembaga kemasyarakatan. Alat perjuangan nasional yang mempunyai karya sebagai salah satu media komunikasi massa, yang bersifat umum berupa penerbitan yang teratur waktu terbitnya, dilengkapi atau tidak dilengkapi dengan alat-alat milik sendiri berupa percetakan, alat-alat foto, klise, mesin-mesin stensil atau alat-alat teknik lainnya. (Djuroto Totok:2000)

Dalam peraturan Menteri penerangan nomor 01/PER/MENPEN/1998 tentang ketentuan-ketentuan Surat Izin Usaha penerbitan Pers (sebelum departemen Penerangan dilikuidasi pada awal pemerintahan Gus Dur) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan pers adalah sebagai berikut :

  1. Penerbitan pers adalah surat kabar harian, surat kabar mingguan, majalah, bulletin, berkala lainnya yang diselenggarakan oleh perusahaan pers dan penerbitan kantor berita.
  2. Perusahaan pers adalah badan usaha swasta nasional berbentuk badan hokum, koperasi, yayasan atau badan usaha milik Negara.
  3. Percetakan pers adalah perusahaan percetakan yang dilengkapi dengan perangkat alat keperluan mencetak penerbitan pers.
  4. Karyawan pers yang melakukan pekerjaan secara bersama-sama dalam seuatu kesatuanyang menghasilkan penerbitan persyang terdiri dari pengasuh penerbitan pers, karyawan pengusaha, karyawan wartawan, karyawan administrasi/teknik dan karyawan pers lainnya
  5. Pengasuh penerbitan pers adalah pemimpin umum, pemimpin redaksi dan pemimpin perusahaan.

Pembahasan

Dalam membahas pers jaman dulu, pemerintah sangat minim didalam menangani atau membahas tentang keberadaan pers,karena kedudukan pers jaman dulu masih belum terbuka didalam mengkritik pemerintah atau masih takut dengan adanya hukum pemerintah tentang UU pers. Karena dulu setiap ada orang yang berani menyuarakan negative tentang pemerintah pasti akan langsung dicari dan ditangkap. Contohnya di era pemerintahannya Soeharto, banyak orang yang lebih memilih diam daripada mencari masalah kepada pemerintah.Seperti keberadaan pers pada jaman dulu yaitu diam didalam mengkritik pemerintah,dan berbicara dalam mendukung pemerintah atau memperjuangkan nama Bangsa.

Keberadaan pers jaman dulu dikekang oleh pemerintah, serta ancaman pemerintah dan membuat suara pers semakin minim didalam menyuarahkan kritikan kepada pemerintah,namun lama-lama pers merasa jenuh dan bosan terhadap keputusan pemerintah yang kurang seimbang antara peraturan pers dengan pemerintah. Dan akhirnya pers melakukan pemberontakan dan dibarengi dengan gerakan rakyat untuk melakukan revolusi.Pers bersama-sama dengan rakyat bekerjasama untuk menggulingkan pemerintah.

Suara-suara provokasi dilakukan oleh pers agar pemerintah terguling.Inilah yang disebut aliran revolutionary pers,dan pers merasakan euphoria luar biasa dalam menyambut  kebebasan pers. Sehingga dikawatirkan menjadi pers yang kebablasan,seperti yang terjadi pada saat ini ,seolah-olah pers tidak mempunyai batasan dalam hal mengkritik masalah pemerintah.

Semua suara rakyat bahkan dianggap benar,tak peduli apakah suara tersebut berkompeten atau tidak , Kritikan yang pedas kepada pemerintah menjadi tontonan yang menarik. Sehingga media-media saling bersaing dalam mengemas kritik tersebut untuk mengeruk keuntungan.Dan hal seperti ini menjadi biasa dalam berbicara dimedia. Seperti mengkritik,menghancurkan nama pemerintah dan sampai-sampai isu yang tidak penting dipermasalahkan. Dan akhirnya kerusuhan-kerusuhan dimedia tentang pers terlihat oleh Negara lain,sehingga hal seperti ini bisa menghancurkan nama baik Negara.

Inilah yang dikhawatirkan oleh kita, bila terus dibiarkan bisa-bisa pers Indonesia dapat mengarah ke libertarian pers yang mendewakan kebebasan tanpa adanya tanggung jawab. Sehingga perilaku pers dalam menanggapi pemerintah sangat jelak di mata Negara lain, dan Negara Indonesia hanya bisa di pandang  kejelekannya saja oleh Negara lain.

Sampai sekarang setidaknya ada 6 sifat pers yang penerapannya berbeda satu dengan yang lainnya sesuai dengan sifat dan falsafah Negara diman per situ berada.

  1. Liberal Democration press (Pers Liberal)

Pers yang bersifat liberal, cocok untuk Negara yang menganut falsafah demokrasi liberal, yaitu kebebasan yang sebebas-bebasnya. Negara Negara Eropa, Amerika bahkan Australia merupakan Negara yang system permerintahannnya demokrasi liberal. Jelaskan, kepentingan individu sangat diutamakan. Dalam demokrasi liberal, kebebasan pers dipersepsikan sebagai kebebasan tanpa batas. Artinya kritik dan komentar pers dapat melakukan pada siapa saja, termasuk kepada kepala negaranya.

  1. Communist Press (pers komunis)

Pers komunis, umumnya berada dinegara-negara sosialis yang menganut paham komunis atau marxis, misalnya Cina, Rusia, Hongaria kroasia dan sebagainya. Pers komunis terbentuk karena latar belakang pemertintah negaranya yang menitikberatkan kekuasaan tunggal, yaitu partai komunis. Dengan demikian, suara pers harus sama dengan suara komunis, sedangkan wartawannya adalah orang-orang yang setia kepada partainya.

  1. Authuritarian press (press otoriter)

Pers otoriter lahir dari Negara penganut politik fasis yang menentukan pemerintah berkuasa secara mutlak. Intensitas pers otoriter ini hanya untuk kepentingan penguasa. Untuk itu segala cara dilakukan oleh pemerintah agar pers tidak melakukan kritik atau control kepada pemerintahnya.

  1. Fredom and responsibility press (pers bebas dan bertanggung jawab)

Istilah freedom and responsibility press semula merupakan slogan dari Negara barat yang menginginkan kebebasan pers harus dipertanggung jawabkan kepada kehidupan bermasyarakat, tetapi karena masing-masing Negara mempunyai pandangan yang berbeda terhadap pengertian bebas maka kebebasan pers disetiap Negara menjadi berbeda pula, bergantung pada bobot yang dianut oleh masing-masing Negara.

  1. Developmenr press (pers pembangunan)

Istlah pers pembnagunan dimunculkan oleh para jurnalis yang berdiam dinegara-negara sedang berkembang. Alasannya, Negara berkembang tentu sedang giat-giatnya melakukan pembangunan (development). Tetapi apakah perkembangan atau pembangunanyang dilakukan oleh Negara-negara berkembang satu dengan yang lainnya itu sama, tentu tidak. Masing-masing Negara mempunyai arah dan tujuan pembangunan yang bebeda.

  1. Five foundation press (pers pancasila)

pers pancasila dilahirkan oleh bangsa Indonesia karena falsafah negaranya adalah pancasila. Sampai sekarang belum ditemukan definisi yang tepat dari sebutan pers pancasila ini. Tetapi pendapat dari beberapa tokoh pers, member ancar-ancar sifat dari pers pancasila itu adalah pers yang melihat segala sesuatunya secara proporsional. Pers pancasila hendaknya mencari keseimbangan dalam berita atau tulisan demi kepentingan semua pihak sesuai dengan consensus demukrasi pancasila.

 

Misi Pers

Pers sebagai lembaga kemasyarakat yang bergerak dibidang pengumpulan dan penyebaran informasi mempunyai misi ikut mencerdaskan masyarakat, menegakkan keadilan dan memberantas kebatilan. Selama melaksanakan tugasnya, pers terkait erat dengan tata nilai social yang berlaku dalam masyarakat. Dalam kehidupan social, masyarakat mempunyai hak untuk mengetahui segala hal yang berkaitan dengan hajat hidup mereka. Untuk itulah, pers sebagai lembaga masyarakatan dituntut untuk dapat memenuhi kebutuhan informasi bagi masyarakatnya.

Mengingat masyarakat bersifat majemuk dan heterogen, tata nilai social yang berlaku pada masyarakat selalu berbeda. Utnuk itu, pers dituntut sebanyak mungkin mengenali dan memahami tata nilai kemasyarakatan. Paling tidak , pers harus mengetahui apakah informasi yang diberikan kepada masyarakat itu bisa diterima baik dan bahkan dipercaya.

Sebagai media massa yang berbeda ditengah-tengah masyarakat, pers harus mengutamakan kepentingan umum dari pada kepentingannya sendiri. Untuk itu, pers harus mampu menjalin hubungan kerja yang baik dengan lembaga-lembaga kemasyarakatan lainnya yang ada dalam masyarakat, untuk mencapai suatu tata kehidupan bermasyarakat yang adil untuk semua golongan.

Tata nilai social dalam masyarakat akan selalu mengalami perubahan seiring dengan perubahan zaman. Pers dalam kapasitasnya sebagai innovator harus tetap mempunyai pola pikir dan pola kerja yang bersandarkan pada nilai-nilai kekeluargaan, kebersamaan dan kegotong royongan antar sesame anggota masyarakat.

Dalam melaksanakan misinya, pers harus mempunyai jiwa dan semangat untuk menjalin kesetiakawanan, bantu membantu, saling melakukan control untuk kemajuan bersama. Dalam hal terjadi perbedaan-perbedaan pendapat yang menimbulkan konflik antar sesamanya, pers harus mampu mencari penyelesaian berdasarkan hokum, bukan berdasarkan kemampuannya mempengaruhi masyarakat.

Jadi, meskipun peranan pers ditengah-tengah masyarakat mempunyai “otonomi” , bukan berarti ia mempunyai eksistensi yang mandiri. Intensitas pers ditengah masyarakat, diperlukan oleh masyarakat itu sendiri. Karenanya kehidupan per itu ada keterikatan oraganisatoris dengan lembaga-lembaga atau anggota masyarakat itu sendiri.

Kesimpulan

Jadi pers adalah lembaga yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat , apalagi mempunyai misi ikut mencerdaskan masyarakat. Hal ini sangat bagus, dan efek dari perkembangan pers sendiri sangat besar pengaruhnya bagi Masyarakat bahkan Negara, adanya informasi yang disampaikannya. Kritisnya pers dalam menyampaikan sesuatu hal yang berhubungan dengan Negara, hal itu membuat Negara semakin mengontrol dalam kinerjanya. Tetapi pers sendiri harus bisa mengontrol dengan apa yang di informasikan kepada khalayak untuk kemajuan bersama.

Daftar Pustaka

Djuroto Totok, Manajemen penerbitan pers, PT Remaja Rosdakarya, Bandung 2000.

Mallarangeng Rizal, Pers Orde Baru, PT Gramedia, Jakarta 2010.

Oetama Jakob, Perspektif Pers Indonesia, LP3ES, Jakarta 1987.

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: